Facebook dan Google Luncurkan Internet Gratis – Facebook dan Google ingin menghadirkan Internet ke seluruh penjuru dunia. Teknologi drone dan satelit pun menjadi andalan mereka. S aat (produsen alat otomatisasi di rumah) senilai US$3.2 miliar atau Facebook membeli layan­ an WhatsApp seharga US$ 19 Google mengakuisisi Nest miliar, dampaknya berskala global. Padahal, saat keduanya masuk ke bisnis drone (pesawat tanpa awak) secara bersamaan banyak yang tidak mengetahuinya. Padahal dampaknya ke dunia justru lebih besar. Meskipun akses Internet nyaris sudah menjadi hak setiap orang di negaranegara maju, seperti di AS, negara Eropa, Jepang, dan lain­lain, penduduk di belahan dunia lainnya masih belu dapat menikmatinya, baik akses Internet konvensional atau mobile. Apabila di benua Asia, satu dari empat orang telah bisa online di Internet, di benua Afrika tercatat baru satu di antara sepuluh orang yang bisa online.

Kendala logostik adalah alasan utamanya. Pengadaan kabel tembaga dan transmisi radio untuk jaringan Internet sangat rumit dan tidak ekonomis di daerah pedalaman dan miskin. Benarkah demikian? Bagi raksasa Google dan Facebook tidaklah demikian. Peluang besar dengan hadirnya Internet di area tersebut justru dilihat oleh keduanya. Akuisisi Ascenta (Facebook) dan Titan Aerospace (Google) menjadi salah satu indikasi niat keduanya dalam teknologi drone bertenaga surya. Drone ini sanggup terbang selama berbulan­bulan (bahkan tahunan) sebagai stasiun radio bergerak (mobile). Idenya, setiap drone akan menyediakan akses Internet melalui fasilitas wireless LAN (WLAN) dari angkasa. Cakupannya diklaim setara dengan infrastruktur konvensional ratusan mobile radio base station. Tidak hanya itu, Google juga menguji balon udara (helium) sebagai Internet Access Point (AP) di lapisan stratosfer. Di lapisan lebih tinggi, mengorbit 180 satelit mini di berbagai sisi bumi penyedia akses Internet global.

Namun, persaingan digital di antara keduanya tersebut tidak semata bermotif kemanusiaan, tetapi juga berbalut motif prestise dan bisnis untuk meraup keuntungan masa depan dari 5 miliar warga dunia yang belum tergarap. Berbagai pihak boleh saja bersikap skeptis atau bahkan sinis atas rancangan besar Google dan Facebook tersebut. Ha ini mengingat manfaat pendidikan dan informasi hanyalah “efek samping” yang bermanfaat bagi umat manusia. Selebihnya, hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya secara pasti.

Interferensi sinyal

Google, Facebook, dan perusahaan lainnya masih terus bereksperimen dengan beragam teknologi, sehingga standar bersama masih belum ditentukan. Jadi, transmisi radionya masih dilakukan melalui frekuensi 2.4 dan 5.8 GHz (ISM band tanpa lisensi). Hal ini bukanlah masalah di area terpencil yang minim infrastruktur industri, tetapi berpotensi masalah di aera-area industri yang banyak menggunakan jaringan WLAN dan Bluetooth.

Kecelakaan di angkasa

Selain menghadirkan teknologi jaringan tanpa kabel secara globa, dampak lainnya juga perlu diketahui. Selain sate lit yang akan rusak di angkasa, drone dan balon bisa mengalami kecelakaan (jika terjadi anomali orbit). Oleh karena itu, balon Google juga harus dilengkapi dengan parasut darurat untuk mengurangi risiko tabrakan. Parasut ini mulai diterapkan pertengahan tahun ini di AS setelah setelah balon yang diuji coba mengalami tabrakan. Wah enak donk, kita bisa update status wa, status di facebook, IG, browsing, jualan online dengan internet gratis

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *